Tantangan global industri baja nasional dibuktikan oleh PT AM/NS Indonesia dalam kemampuan ekspor baja di kancah global. Ini artinya industri baja nasional kembali membuktikan kemampuannya sebagai perusahaan yang telah lama dikenal sebagai produsen baja unggulan di Indonesia. PT AM/NS mengumumkan ekspor strategis sebanyak 10.000 ton produk baja lapis seng (galvanis) ke Amerika Serikat. Sebuah pencapaian yang tidak hanya mencerminkan kekuatan produksi, dilihat dari nilai ekspor ini yang mencapai kisaran USD 10 juta. PT AM/NS menunjukan kecakapan perusahaan dalam membaca peluang di pasar global.
Pengambilan langkah yang besar ini menjadi sinyal bahwa industri baja nasional Indonesia tidak hanya siap bersaing, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan negara-negara maju yang sedang menata ulang rantai pasok industrinya, dengan memberikan solusi dari segi keunggulan kualitas produk dan harga yang dapat memenuhi kebutuhan pasar AS.
[ez-toc]
Tidak Hanya Sekedar Ekspor
Industri ekspor tidak hanya soal volume. Ketika kita lihat dibalik pengiriman 10.000 ton baja ke AS ini, memiliki narasi strategis yang lebih luas. Yaitu, bagaimana sebuah perusahaan lokal mengukuhkan posisi perusahaan dalam peta global, melalui kualitas dan konsistensi.
PT AM/NS Indonesia bukan lagi pemain baru dalam industri baja. Tapi, memang sejak awal tahun 2000-an, perusahaan sudah secara rutin memasok produk-produknya ke pasar Amerika Serikat. Saat ini, perusahaan PT AM/NS menargetkan ekspor rutin ke Amerika Serikat sebanyak 5.000-6.000 ton per bulan, serta menargetkan ekspor ke Kanada sebanyak 3.000-4.000 ton per kuartal. Tentu hal ini bukan hanya sekadar ekspansi, tapi ini adalah bentuk kepercayaan pasar global terhadap performa industri baja Indonesia.
Melihat Peluang dari Ketatnya Persaingan Dagang di Kancah Global
Menariknya, kegiatan ekspor ini dilakukan di tengah situasi atau kondisi saat ini yang sedang berada dalam gelombang kebijakan proteksionis di berbagai negara. Di Amerika Serikat sendiri mesalnya, untuk baja impor dari luar dikenakan tarif sebesar 25% melalui Section 232. Namun, di balik hambatan ini, justru PT AM/NS melihat munculnya peluang besar.
Beberapa negara pesaing seperti Tiongkok, Vietnam, hingga India dikenakan tarif tambahan karena kebijakan anti-dumping. Dari sini produk baja asal Indonesia mendapatkan celah kompetitif. PT AM/NS percaya dengan kualitas dan harganya yang efisien akan mampu menjadi alternatif menarik bagi pasar global, khususnya Amerika Serikat yang sedang mencari kebutuhan pemasok baru yang terpecaya dan lebih stabil.

Murali Krishna Chunduru sebagai President Director PT AM/NS Indonesia sendiri mengatakan bahwa “Kami memiliki keunggulan kompetitif baik dari sisi kualitas maupun harga, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar AS yang kini mencari pemasok baru,” Hal ini deperkuat oleh pengalaman PT AM/NS Indonesia menjadi pemasok yang konsisten dan optimis meningkatkan volume ekspornya di pasar Amerika Serikat dari tahun 2004. Terutama pada produk yang diekspor, yaitu baja Galvanized dan Cold Rolled Coil.
Dengan pengalaman panjang dan reputasi global yang terus meningkat, PT AM/NS Indonesia mematok target penjualan tahun ini sebesar 300.000 ton, atau tumbuh sekitar 8–9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tantangan Nyata Produk Baja di Indonesia
Meskipun sukses di luar negeri, tantangan domestik tidak bisa dibaikan. Salah satu isu yang menjadi sorot perhatian adalah masuknya baja non-standar ke pasar dalam negeri. Produk dengan ketebalan atau lapisan pelindung yang tidak sesuai standar masih banyak yang beredar dan belum sepenuhnya mendapatkan pengawasan regulatif.
PT AM/NS Indonesia menegaskan bahwa hal ini menjadi tantangan struktural yang perlu dihadapi dalam industri baja. Murali membutuhkan tindakan intervensi kebijakan dari pemerintah Indonesia untuk dapat menciptakan iklim industri yang sehat dan adil.
“Kami membutuhkan intervensi pemerintah untuk menghentikan masuknya baja non-standar, seperti produk dengan ketebalan di bawah standar atau lapisan pelindung yang lebih rendah,” ujar Murali.
Bukan Pemain Baru: Siapa PT AM/NS Indonesia?
Dikenal sebelumnya sebagai PT Essar Indonesia, perusahaan ini mulai beroperasi secara komersial sejak tahun 1997 dan resmi berganti nama menjadi PT AM/NS Indonesia pada tahun 2020. Saat ini, fasilitas produksinya yang terletak di kawasan industri MM2100, Cibitung, memiliki kapasitas produksi hingga 400.000 ton Cold Rolled per tahun dan 150.000 ton baja galvanis per tahun.
Produk-produknya telah digunakan di berbagai sektor penting: dari konstruksi, otomotif, peralatan rumah tangga, hingga manufaktur pipa. Dengan sertifikasi ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001, perusahaan ini membuktikan komitmennya terhadap mutu, lingkungan, dan keselamatan kerja.




